Pendidikan
tidak akan pernah terlepas dari proses yang dijalani dalam kehidupan manusia.
Maka istilah pendidikan sepanjang hayat memang sangat sesuai dengan fakta yang
terjadi pada setiap individu yang selalu berkembang. Sekolah merupakan salah
satu bentuk lembaga yang terfokus dalam pendidikan. Namun perlu kita ketahui
bahwa sekolah adalah bentuk kebudayaan dari masa lampau. Dahulu kala orang
belum sekolah pendidikan hanya berupa pola asuh oleh orangtua terutama ibu yang
dikenal dengan istilah “materna”.
Lambat laun kebutuhan akan suatu keahlian khusus membuat orangtua mulai
menitipkan pada ahli-ahli. Kemudian kebiasaan ini menjadi sebuah budaya dan
kita kenal sekarang dengan nama sekolah.
Pendidikan
tidak bisa kita lepaskan dengan budaya yang berkembang di dalam suatu bangsa.
Semua pengetahuan hampir memiliki kaitan dengan kebiasaan masa lalu yang
menjadi pembiasaan. Dalam Konggres Taman Siswa Pertama tahun 1930, Ki Hadjar
Dewantara telah menyodorkan konsep pendidikan sebagai berikut: “Pendidikan
beralaskan garis hidup dari bangsanya (kulturil nasional) yang ditujukan untuk
keperluan perikehidupan (maatschappelijk)
yang dapat mengangkat drajat negara dan rakyatnya, agar dapat bersama-sama
dengan lain-lain bangsa untuk kemulyan segenap manusia di seluruh dunia”.
Pernyataan dari Bapak Pendidikan Nasional tersebut menunjuk pada garis hidup
bangsa termasuk nilai sejarah dan budaya yang berkembang harus terus dipelihara
untuk diwariskan. Nicolas Hans mengatakan bahwa sekolah mempunyai peranan yang
penting dalam pendidikan, baik dalam arti transformasi kebudayaan maupun dalam
arti pengembangan manusiawi.
Paulo
Freire pernah mengungkapkan hal senada dalam bahasa yang lebih sederhana yaitu
pendidikan tidak akan pernah terlepas dari nilai historis, ekonomi, dan politik
pada tiap-tiap bangsa. Isi pendidikan yang mengkesampingkan nilai historis,
ekonomi, dan politik bisa kita telaah dengan fakta pendidikan di Indonesia.
Nilai historis berarti berkaca pada sejarah pendidikan di Indonesia yang
berkembang sejak masa kerajaan nusantara sebenarnya sangat berkaitan. Mengambil
contoh era majapahit dan sriwijaya istilah “cantrik” melekat pada orang yang
belajar pada ahli agama. Pendidikan di masa itu memang masih terfokus pada
ajaran keagamaan tetapi terbukti ahli-ahli di zamannya pun bermunculan yang
kita kenal dengan empu.
Beralih
ke masa penyebaran islam oleh wali songo istilah “santri” sebenarnya juga
mengadopsi dari kata “cantrik” intinya sama belajar dari seorang ahli. Lebih
hebatnya lagi pendekatan-pendekatan yang digunakan sudah berpikir modern dalam
mengajarkan suatu ilmu dengan menggunakan media kesenian maupun kebudayaan.
Semua ini berkaitan dengan agama maka jika ingin mengajarkan karakter negara
ini tidak bisa bertindak sekuler. Kita ketahui peranan pesantern dan sekolah
keagamaan sempat menjadi lemah di masa orde baru. Orde baru menganggap
pendidikan ala pesantern akan menimbulkan doktrin yang membahayakan negara
sehingga di buatlah pendidikan yang berbasisi keagamaan menjadi pendidikan
non-formal. Kemudian diikuti dengan aturan bahwa pendidikan keagamaan juga
wajib disampaikan di sekolah umum. Akan tetapi membuat pendidikan agama di
sekolah ini menjadi seperti hal ritual saja dalam pelaksanaannya.
Tentu pendidikan agama bukan menjadi satu-satunya
pengembangan karakter pendidikan di Indonesia. Masih ada pendidikan
kewarganegaraan dan sejarah yang bagi saya sangat penting dipahami peserta
didik. Pendidikan kewarganegaraan akan mengajarkan bagaimana ketatanegaraan di
Indonesia. Namun sejarah di sini memegang peranan yang sangat penting dalam
dunia pendidikan. Apabila sejarah sampai diulupakan dan dikesampingkan dengan
mengintegrasikan pelajaran tersebut bisa berakibat fatal dengan pendidikan
kita. Individu yang memahami sejarah bangsanya akan lebih menghargai
nilai-nilai kehidupan bangsa ini. Perjuangan dan pengorbanan pejuang di masa
lalu seharusnya menjadikan refleksi dan contoh karakter bangsa ini.
Kolonialisme menjadi musuh utama bangsa ini, bangsa ini bangsa yang selalu
melawan dengan ketidakadilan dan segala bentuk penindasan. Semangat tersebut
jika terus tertanam kuat dalam jati diri bangsa Indonesia tentu tugas kita
sekarang melawan segala bentuk keburukan yang sedang menghantam negeri ini.
Bangsa Indonesia akan sadar melawan adanya pengaruh-pengaruh negatif dari luar
maupun dari dalam diri kita sendiri.
Filusuf Pendidikan Imam Barnadib menyatakan essensialisme
memiliki pandangan bahwa manusia itu adalah makhluk budaya, artinya makhluk
yang hidupnya dilingkupi oleh nilai norma dan budaya. Dari pandagan
essensialisme yang disampaiakan Imam Barnadib, kaitannya dengan dunia
pendidikan adalah manusia sebagai makhluk yang berbudaya harus terus
dipertahankan. Maka pendidikan di Indonesia seharusnya tidak meninggalkan
nilai-nilai kearifan lokal. Karakter yang berkembang dalam setiap daerah harus
terangkum dalam dunia pendidikan Indonesia. Kurikulum yang mengarahkan pada
potensi lokal harus diutamakan akan tidak tergerus kemajuan zaman. Era
teknologi harus diimbangi dengan karakter dalam pribadi manusia yang kuat.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang
membentuk corak essensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung essensialisme
namun tidak melebur menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya
masing-masing. Idealisme adalah aliran yang mempunyai pandangan hal-hal
idealnya atau hal-hal yang baik menurut konsep berpikirnya akan tetapi
terkadang kurang dapat mengimplementasikan dalam kehidupannya. Sedangkan
Realisme adalah bentuk teori pengetahuan yang real atau nyata sehingga
memandang segala sesuatu secara objektif dengan penginderaan dan cenderung apa
adanya.
Maka essensialisme pendidikan seharusnya dapat
memposisikan pendidikan lebih fleksibel ketika menghubungkan cita-cita dan
fakta. Cita-cita Pendidikan Nasional yang terangkum dalam Tujuan Nasional
Pendidikan Indonesia harus jelas dengan nilai-nilai yang tetap dipertahankan. Tujuan
umum aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan
akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal
yang mampu menggerakkan kehendak manusia. pendapat tersebut juga semakin jelas
pendidikan jika menggunakan essensialisme adalah membentuk pribadi yang
bahagia. Jika pendidikan dalam proses maupun hasilnya belum menumbuhkan
kebahagiaan berarti tidak ada essensialisme dalam pendidikan tersebut.
Komentar
Posting Komentar