Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kejawaan

Sri Mengungkap Samar

Memahami pola pemikiran masyarakat Jawa klasik yang sederhana tidaklah mudah. Karena tidak cukup hanya pemahaman, yang diperlukan sampai pada tataran bentuk laku yang sudah menjadi praktik kebiasaan. Dalam sisi kosmologis manusia Jawa selalu berusaha mewujudkan harmonisasi kehidupan baik dalam artian jagad ageng maupun jagad alit tertampung dalam istilah memayu hayuning bawana , bawana ageng dan juga bhuwana alit . Kesadaran alam semesta dan pribadi sebagai semesta kecil. Atas dasar inilah kejawen lebih dekat kepada paham-paham sufiisme dan tasawuf. Kegiatan-kegiatan sufiistik dan upaya-upaya laku pembersihan jiwa batiniyah terangkum dalam kearifan lokal yang begitu kaya. Muqqadimah di atas pun sengaja diungkapkan sebagai upaya untuk membuat dasar pemikiran dari sudut pandang masyarakat Jawa. Itu hanya gambaran yang masih begitu umum belum masuk pada tataran bab dan sub bab disertai perasan-perasan ilmu kesempurnaan dalam istilah kejawen. Harmonisasi kehidupan kepada kesadaran k...

Sluku-Sluku Bathok Dalam Konteks Kekinian

Sluku-sluku bathok Bathoke ela-elo Si romo menyang Solo Oleh-olehe payung motha Mak jenthit lolo lobah Wong mati ora obah Nek Obah Medeni Bocah Nek Urip Goleko Duit Sluku-sluku bathok adalah tembang Jawa yang sengaja diciptakan bukan sekedar panglipur tetaapi juga panuntun . Sama halnya tembang Jawa lain seperti Lir-ilir ciptaan Susuhunan Kalijaga. Sluku-sluku Bathok juga salah satu tembang dalam dakwah walisanga yang menurut berbagai sumber diciptakan oleh Susuhunan Giri. Sudah banyak yang mencoba memaknai syair ini dan menghubungkannya dengan konteks kehidupan. Saya disini hanya kembali menegaskan tentang tembang yang sejatinya memiliki makna membersihakan hati agar kekuatan sirr atau nurani itu yang senantiasa menemani dalam kehidupan. Pada awal syair terangakai kata berbunyi sluku-sluku bathok . Ada yang mengartikan berkaitan dengan bathok sebagai kepala. Tetapi salah satu sumber menyatakan sluku-sluku bathok ini berasal dari bahasa Arab yang terucap den...

Sakral Dituduh Porno

Ketika akan menulis dengan judul ini saya sempat berpikir berulang kali. Barangkali kata porno bagi sebagian pembaca bisa jadi kontoversial. Sakral dan porno sesuatu yang sangat kontras. Sakral memposisikan makna menuju kesucian sementara porno istilah yang berhubungan dengan ketidakpantasan. Porno adalah sebuah istilah yang awal mulanya menunjuk sebuah tempat di Yunani kota Porne . Di sana terdapat kuil Aprodhite dimana menjadi tempat pelacuran pada masa yang lalu. Maka munculah istilah porno sebagai sebuah bentuk pelacuran. Porno dan pornografi lebih banyak dipahami sebagai sisi visual seksualitas, erotisme, ataupun cerita yang mengumbar sebuah gambaran keintiman hubungan. Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi salah satu toko buku di Jogja. Niat dalam hati hanya ingin melihat buku-buku tentang budaya siapa tahu ada yang cocok untuk menambah koleksi. Ketika sedang memilih deretan buku di etalase, tidak sengaja mendengar obrolan dua pengunjung yang posisinya sekitar satu meter...

Ngelmu dan Ilmu

Ngelmu dan ilmu dalam sudut pandang masyarakat jawa memiliki perbedaan yang mendasar. Walaupun dalam keseharian kita memahami keduanya menujuk pada makna yang sama. Ngelmu terkadang dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu. Barangkali belum banyak yang memahami mengenai istilah ngelmu atau malah salah paham dengan istilah tersebut. Beberapa pendapat ahli juga menyatakan ngelmu adalah hasil gubahan pengaruh Bahasa Arab yang sama bermakna ilmu karena di Jawa sebelumnya menggunakan istilah kawruh . Hal ini berkaitan dengan tata bahasa jawa baru tetapi ngelmu dan ilmu akan saya coba kupas denga sudut pandang jawa yang lain. Sekitar satu tahun yang lalu teman kuliah sekaligus rekan diskusi saya pernah bercerita hal yang tidak biasa. Namanya Sarwono. Semenjak saya mengenalnya memang orang yang nuwani dalam bertutur dan bertingkah laku. Suatu malam saat kami ngopi bersama sambil diskusi ia menanyakan tentang permasalahan pendidikan yang...

Ketika Puntadewa Sudah Tidak Jujur

 Gambar: Google by Wiyono Beberapa waktu lalu saya membaca buku Rahwana Putih karya Sri Teddy Rusdy yang membeber Epos Ramayana dengan sudut pandang “Sang Kegelapan Pemeran Keagungan Cinta”. Rahwana bukan saja menjadi sosok pahlawan Alengka (Sri Langka) tetapi dia lah yang sudah menghiasi hidupnya dengan cinta. Kelahirannya bukan sebagai anak haram karena Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi sedang menjalani takdirnya. Begitupun masa-masa keemasan Rahwana dalam Dasamuka Kalajaya ia sedang menjalani perannya sebagai pemberi warna dalam keagungan cinta sesuai kehendak Sang Pencipta. Berangkat dari dasar pemikiran dan sudut pandang tentang kisah Rahwana tersebut saya mencoba membuat sedikit sudut pandang ceritra pewayangan mahabarata. Ramayana dan Mahabarata dalam pementasan wayang selalu menyimpan petuah tersembunyi. Lalu apa sebenarnya maksud mumculnya sosok Punakawan dalam dunia pewayangan kita? Ada sebuah pesan tersembunyi dari dibuatnya sosok Punakawan yang begitu luar biasanya,...

Membaca Ulang Kejawen

Masyarakat Jawa sudah sejak lama memiliki suatu ciri budaya yang khas yaitu Kejawen. Kejawen dikatakan sebagai ajaran, ilmu, paham, maupun agama. Namun, nasib ajaran kejawen saat ini cenderung mulai tersingkirkan dan dianggap ilmu yang tidak sesuai lagi karena penuh mitos dan mistis. Sekiranya pemahaman seperti itu perlu kita luruskan dan kita buka kembali sejaranya. Kalau melihat beberapa ajaran yang pernah berkembang di Jawa bisa kita rangkum menjadi 3 periode. Pertama , masa sebelum masuknya agama Hindu dan Buddha yaitu semacam bentuk animisme dan dinamisme kepercayaan terhadaproh-roh dan danyang. Namun, banyak yang berpendapat bahwa bangsa Jawa di kala itu sudah memiliki kepercayaan yang di luar animisme dan dinamisme. Terlihat dijumpai pada bentuk piranti upacara nasi tumpeng, pundhen berundak dan candi. Bahkan ilmu pengetahuan tentang perhitungan waktu, windu, wuku, dan neptu dina. Kalau berdasarkan beberapa sumber misalnya Babad Tanah Jawi diperkirakan masa kepercayaan Jawa...

Beringin Kurung Memang Pertanda

Kabar terbakarnya beringin kurung di alun-alun kidul Jogjakarta sontak mengejutkan warga. Beberapa media turut serta mengabarkan kejadian yang dua hari belakangan menjadi fenomena tersendiri. Berbagai spekulasi dan anggapan juga muncul dari warga masyarakat  Jogja. Salah satu beringin yang terbakar tersebut ada yang menyatakan sengaja dibakar oleh seseorang, yaitu seseorang melempar putung rokok. Memang belum ada yang bisa menjelaskan dengan pasti bagaimana kejadiannya. Ada juga yang menyatakan bahwa pohon beringin memang terbakar secara tiba-tiba. Kejadian yang cukup menggemparkan ini kemudian oleh warga sekitar yang memang sudah paham betul keberadaan pohon beringin kembar di tengah alun-alun selatan ini dihubungkan dengan sebuah sinyal pertanda. Bahwa ketika beringin keraton yang ada di alun-alun utara maupun selatan menunjukan kejadian tertentu biasanya diikuti kejadian besar. Kejadian besar tersebut bisa di dalam lingkup keraton sendiri ataupun nasional. Menurut budayawan...

Slametan : Pola dan Makna

Kebudayaan muncul dan berkembang dalam suatu tatanan masyarakat. Kebudayaan memuat hal-hal kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun dan berkesinambungan sehingga menjadi hasil budi daya dari suatu kelompok hidup. Dalam istilah lain kita mengenal adanya tradisi. Tradisi berkaitan dengan hal yang sudah dilakukan orang-orang di masa lalu kemudian diajarkan pada generasi selanjutnya dengan berbagai dasar yang melatarbelakangi adanya sebuah tradisi itu sendiri. Maka tradisi juga kadang digunakan untuk memahami sesuatu yang bersifat konvensional dan kuno dengan istilah tradisional. Sebagai masyarakat Jawa kita sangat paham kondisi sosial yang sebagian masih menjujung tinggi tradisi nenek moyang. Kegiatan-kegiatan yang bersifat khas tidak dipengaruhi dari ajaran agama maupun pengaruh dari asing masih terus terjaga. Masyarakat Jawa sebagian masih memegang teguh tradisi tersebut dibarengi dengan agama yang sudah diyakini. Maka terkadang bagi sebagian orang menganggap bahwa tradisi ter...

Wong Jawa Hilang Kejawaannya

Berbicara Wong Jawa pasti pikiran dan asumsi kita menggambarkan orang-orang dengan ciri khasnya yang halus dan lemah lembut. Namun, Jawa sebenarnya tidak hanya terbatas pada ciri itu saja. Pulau Jawa yang membentang di selatan kepualuan nusantara ini juga memiliki beragam corak. Wilayahnya terbagi menjadi 5 propinsi yaitu Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kepadatan penduduknya tertinggi yaitu 60% penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Kelompok etnik yang ada meliputi Sunda, Jawa, Tengger, Badui, Osing, Banten, Cirebon, dan Betawi. Jawa sendiri jika ditilik dari budayanya terbagi menjadi 4 wilayah budaya utama: sentral budaya jawa (kejawen) di bagian tengah, budaya pesisir Jawa (pasisiran) di pantai utara, budaya Sunda (Pasundan) di bagian barat, dan budaya Osing (Blambangan) di sisi timur. Budaya Madura terkadang dianggap yang kelima, karena erat hubungannya dengan budaya pesisir Jawa. Begitu pula dengan budaya Bali. Sering kita men...