Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan

Gurunya Para Guru

  Pribadi luhur terhormat di desa-desa umumnya mulai dari mbah kaum, guru, pejabat desa, baru diikuti wong sugih. Kebiasaan yang berangsur-angsur tergilas roda zaman kemudian terbalik 180 0  sebab stratanya sudah berdasarkan kelas ekonomi. Kalau belum ikut-ikutan jadi  crazy rich belum akan dianggap. Persoalan ada definisi berbeda khususnya di Jawa dengan istilah sugih tanpa banda itu hal lain yang mungkin sudah tidak dibutuhkan oleh logika modern saat ini. Seperti halnya narima ing pandum yang bagi kalangan melenial tidak relevan dengan kebutuhan sandang, pangan, dan status WA-nya. Bahkan besok pagi ketika melek dan membuka hp cara berpikirnya seketika berubah karena yang sedang viral berbeda dengan tadi malam. Mbah Kaum dan Guru yang notabene adalah sosok penting dalam sebuah peradaban manusia dianggapnya tak lebih hebat dari browser-browser di ponsel pintar mereka. Mbah Google adalah guru yang setiap saat tekun mencari apa yang ingin kita temukan jawabannya dengan p...

Masih Geladi Bersih

Geladi itu sesungguhnya upaya untuk menonjolkan betapa lemahnya perwujudan ide-ide, konsep, dan gagasan. Geladi berusaha mewujudkan kejadian yang akan terjadi di dalam relasi peristiwa dan pelakunya. Istilah yang menjadi lebih serius dan formal ketimbang disebut sebagai bentuk berlatih. Sisi kepantasan diutamakan, tidak sembarang tindakan ada geladinya. Ada upacara-upacara besar, kegiatan penting, peringatan hageng, dan prosesi sakral. Walaupun dari kacamata yang luas geladi dialami setiap proses kehidupan. Tapi tidak usah dipertanyakan manusia pertama di bumi melakukan geladi apa, itu terlampau jauh. Cukup berterimakasih saja informasi geladi yang lalu itu masih kita terima dan praktikan sampai hari ini. Tugas geladi adalah membangun ketertiban sehingga pada waktu tindakan diambil bisa bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai koridor yang ditetapkan. Bolehlah kiranya disebut sebagai mitos stimulus yang melahirkan kemantapan walaupun masih jauh kalau diposisikan sebagai tolak ukur dari...

Sewajarnya Manusia Tanpa Embel-Embel

Kalau seandainya harus memberi rapor kepada orang lain, ada syarat-syarat yang semestinya kita penuhi terlebih dahulu. Misalnya, sudah pantaskah, sudah mampukah, dan sejauh mana pencapaian kita. Apakah lebih baik dari objek yang akan kita beri evaluasi? Sebenarnya hal terkait mengevaluasi  orang lain ini jika dibicarakan di lingkup subjektivitas pribadi ketemu kesimpulan bahwa saling menehi rapor itu tindakan kurang bijak. Sebab kita ini posisinya belum jelas, masih berproses, kebenaran yang kita anggap berkemungkinan salah dan kesalahan orang lain bisa jadi berkemungkinan benar. Kebenaran yang benar benar dan pener itu tidak mudah ditemukan kalau hanya sebatas elmu-elmu jarene . Tetapi jika sudah terlanjur sering ngrapori dan kadang dirapori jangan dibuat sakit hati, siapa tahu memang benar-benar peringatan “tompo rapot”. Tompo rapot itu seharusnya bisa bermakna pujian prestasi agar eling tidak keblinger atau peringatan keras saking tidak menyadari kesalahan yang diperbuat...

Fenomena : Ora Internetan Ora Slamet

Internet yang dimaksud di sini adalah segala fasilitas terkait data base gaib tetapi begitu nyata kita akses sehari-hari. Siapa yang tidak tergiur dengan rayuan sosok internet, menawarkan kecepatan bahkan kepraktisan akal dan budhi. Ahlul searching wal googling… Mending tidak makan asalkan bisa beli paket data. Kalau ada yang sungguhan sampai berpikir seperti itu pasti level prihatinnya sudah sangat tinggi. Kebutuhan fisiknya tidak terasa sudah beralih pada ketergantungan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan internet dan perangkatnya. Lebih-lebih jika sudah merasuk ke kebutuhan ruhaninya, bisa terjadi peristiwa jika tidak internetan sekian waktu saja rasanya limbung, gundah, galau, dan merasa terasingkan. Kebutuhan dasar yang kaitanya sandang, pangan, dan papan ditekan habis-habisan. Ora ganti klambi telung dino ga masalah yang penting nginternet , ora madang sehari ga masalah sing penting paketan, dan ora ngerti panggone neng endi sing penting hape-hapenan . Manusia int...

Ziarah Kepada Turah

Anggaplah Mei ini bulan spesial untuk penggemar film, lebih-lebih untuk penonton amatiran seperti saya. Sebut saja deretan screening film pekan ini yang singgah di Jogjakarta, dimulai dari Europe On Screen 2017 , Kineidoscope 2017 , ada juga Seminar tentang Film Bisu Setan Jawa. Apalagi hadirnya Ziarah di layar theater , kesemuanya jadi sarana belajar sinema yang berkualitas. Ziarah dan Turah, dua film ini terlewatkan alias tidak sempat saya tonton saat JAFF 2016. Untungnya ada kesempatan memenuhi target watch list ini. Film-film pada gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016 memang sukses menyedot perhatian, buktinya di tahun ini juga  silih berganti mengisi layar lebar dan mendapat apresiasi tinggi. Mulai dari Salawaku, Moamar Emka’s Jakarta Undercover , Istirahatlah Kata-Kata, kemudian disusul Ziarah, dan saya masih sangat menanti Prenjak hadir. Layar lebar memang bukan indikator bagus tidaknya sebuah karya tetapi setidaknya melalui media ini ada edukasi kepada khalayak...

Perlunya Meninjau Ulang Kualitas Riset Pendidikan

Riset pendidikan di zaman ini membutuhkan gudang instrumen yang lebih besar untuk dapat berperan membenahi masalah pendidikan. Sebagai pendidik maupun yang berkompeten di bidang pendidikan arahnya sudah tidak lagi sebatas melakukan penelitian bertajuk eksperimen dan survey. Permasalahan pendidikan yang kompleks menuntut praktisi maupun akademisi untuk bisa mengkombinasikan berbagai pendekatan guna menemukan formulasi terbaik sebagai solusi. Perguruan tinggi yang diasosiasikan sebagai kamar besar intelektual sudah bukan menjadi rahasia sebagai pelopor riset. Semangat Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat memang harus senantiasa dijadikan pedoman. Sorotan kali ini ditujukan untuk hal-hal berkiatan riset. Penggabungan kementrian riset dan pendidikan tinggi seharusnya bisa semakin meningkatkan fokus dalam mengembangkan penelitian. Program terbaru yang juga hadir di era pemerintahan Presiden Jokowi ini adalah peningkatan subsidi guna pembiaya...

Pekik Semu Kaum Buruh

Sebaiknya kita tidak lagi memandang sarekat buruh dan rentetan aksinya sebagai alat perjuangan kaum buruh. Setiap tanggal 1 Mei ( May Day ) diperingati sebagai International Workers’ Day dengan berbagai aksi pengerahan massa di berbagai tempat termasuk di Indonesia. Tuntutannya pun hampir sama yaitu mengenai perbaikan nasib buruh yang dari waktu ke waktu mengindikasikan bahwa sebenarnya tidak ada perhatian serius terhadap kesejahteraan mereka. Kepastian juga terkesan tidak didapatkan dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan arus bawah dalam dunia industri ini. Pertentangan pokok antara modal dan buruh yang pernah digambarkan oleh Ibnu Parna (1951) dalam catatan Menara Buruh memang benar adanya. Para pemilik modal menghendaki nilai lebih sementara kasta buruh dengan kemelaratan mencoba mengadu nasibnya melalui tuntutan mereka. Kalau yang terjadi hingga saat ini memang masih dalam lingkup permasalahan itu-itu saja maka sudah selayaknya menyelidiki peran negara selama ini. Sudahkah...

Kartini: Pembaca Zaman

Film yang mengusung nilai sejarah apabila tanpa melalui riset mendalam dan panjang cenderung akan kehilangan makna. Percaya atau tidak, bisa Anda buktikan sendiri. Apalagi bercerita tokoh yang sudah terkenal di masyarakat, yang terjadi adalah menimbulkan berbagai spekulasi. Prediksi dan ekspektasi sedikit banyak akan mempengaruhi bagaimana respon ketika menonton film tersebut. Kali ini saya akan sedikit memberikan pemaknaan tentang film yang baru tayang dan baru saja saya tonton yaitu Kartini. Saya yakin sudah banyak yang memberikan ulasan mengenai film ini. Ibu kita Kartini dan harum namanya sering menjadi bahan obrolan santai di sekitar kita. Legacy Pictures yang kali ini giliran memproduksi film Kartini dengan deretan nama sineas populer di industri perfilman Indonesia. Sekedar informasi dan kalau tidak salah karena keterbatasan pengethuan saya tentang film, Kartini sudah diproduksi di layar lebar sebanyak 3 kali. Pertama, era 1984 dengan judul R.A. Kartini, kemudian tahun 2016 d...

Port of Love

Satu lagi film bergenre drama dan ada sisi petualangannya. Namun film ini juga lebih menonjolkan tentang feminism, film apakah itu? Port of love .. Yak, labuan hati karena di setiap labuan punya cerita begitulah judul dan tagline-nya. Dari judulnya saja sudah terlihat dramanya, pastilah gak jauh-jauh dari kisah yang sendu, syahdu, rindu, dan uu uu yang lainnya.  Film garapan Lola Amaria Production ini berdurasi 96 menit, Mbak Lola Amaria sepertinya mencurahkan segala kemampuannya merangkap produser dan sutradara. Penulisan Naskah dibantu oleh Titien Wattimena yang juga menggarap genre sama dalam Salawaku. Film ini mencoba mengangkat kisah 3 wanita dengan karakter yang berbeda ditambah permasalahan hidup mereka. Muncul pula 1 peran pria yang terlibat dalam kerumitan tersebut. Begini ringkasan kisahnya. Film bercerita tentang Bia (Kelly Tandiano), Indi (Nadine Chandrawinata), dan Maria atau kerap disapa Mar (Ully Triani). Tiga wanita cantik ini dipertemukan dengan seorang ins...

Review Film : Salawaku

 Film itu sebuah karya maka cara mengukur kualitasnya tidak lain dari penerimaan masyarakat, kalau bagus diterima kalau jelek ya sudah bersiap-siap saja tidak mendapatkan apresiasi publik. " Begitupun dengan review ini.. hhe" Ukurannya sesederhana itu saja sehingga sineas-sineas yang ada di lingkup aktvitas festival biasannya lebih bebas berekspresi lantaran ia tidak terikat dengan pesanan pihak tertentu atau terpengaruh genre di pasaran. Ibaratnya dengan budget minim pun film akan tetap dibuat. Keunggulan film akan jelas tampak pada sisi originalitas dan kekhasan makna yang ingin disampaikan.  Beberapa bulan lalu saya menyempatkan nonton film Salawaku. Salah satu film bergenre drama dan petualangan. Film salawaku merupakan film garapan rumah produksi Kamala Film Production dan disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Durasinya hanya 82 menit, naskah ditulis oleh Iqbal Fadly dan Titien Watimena.  Kesan saya terhadap film ini berbeda antara melihatnya di festival...

Priyangan

(foto : kampung adat nagawir di rumah Kang Yudi) Jawa tidak saja jawa di timur, pesisir utara, dan pusat kebudayaan kejawen. Bersatunya barat dan timur untuk dipangku menjadi jawa yang utuh hamangkubhumi. Bhumi alit menuju bhuana ageng (pusat kebudayaan dunia), memang akan segera terjadi. Tantangan dan ujian tidak akan berhenti sejak masa lalu hingga ke-indonesia-an saat ini.   Sunda kelapa yang sekarang menjadi pusat administrasi sebenarnya hanya gerbang sedekah retribusi dan pemberhentian memantapkan shaf. Bahwa Padjajaran telah meletakkan puncak dari perjalanan panjang di Galuh. Spirit jiwa yang terus diwariskan maka dikatakan sebagai parahyangan. Sang Hyang lah puncak kesadaran kehambaan manusia jawa. Ter aya daya sareng kakiatan, angingku pitulung Alloh Anu Agung. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Program Pengentasan Ketertindasan

Ada banyak penyakit kronis komplikatif yang semakin hari melemahkan dan menggerogoti bangsa ini. Efeknya memang tidak begitu terasa lantaran manusia Indonesia ini punya ketahanan dan ketabahan luar biasa. Kalaupun ada obat yang sifatnya seperti bantuan kemanusiaan skala internasional itu antara dosisnya tidak tepat atau obatnya memicu penyakit baru. Tak jarang hasilnya semakin dipojokkan supaya kerdil, tidak percaya diri, dan serba kekurangan. Urusan pendidikan pun tak luput dari serangan beruntun sejak tingkat paling dasar. Cerita dari tokoh senior pendidikan yang sebetulnya menggambarkan nada pesimis ini kalau coba diresapi justru menunjukkan kecintaan yang luar biasa. “Pendidikan kita itu sudah sangat mendukung modernitas, sejak negara bangsa ini berdiri yang diadopsi sistem barat. Puncaknya ketika pendidikan yang murni hasil kebudayaan bangsa sendiri malah dianggap tidak resmi, disingkirkan, tidak diakui negara. Selembar surat berkop dan berlogo sakti itu hanya milik sekolaha...

Review Film: Captain Fantastic

Sekitar bulan oktober yang lalu saya mendapatkan rekomendasi untuk nonton film ini tapi sungguh sayang baru sempat menikmatinya dua hari yang lalu. Saya sengaja tidak melihat review, trailer , atau bocoran-bocoran lain dari internet supaya lebih menikmati. Oke, hasilnya luar biasa seperti judulnya bahkan saking fantasticnya bisa dinilai cenderung tidak masuk akal. Namanya juga film. Mari ikuti ulasan saya, monkeybob ! (julukan yang dibuat oleh Ben untuk anaknya)    Captain Fantastic adalah film bergenre drama komedi. Film ini rilis sekitar Juli tahun 2016 di Amerika Serikat  dari rumah produksi Electric City Entertainment & ShivHans Picture . Wikipedia menyebutkan bahwa film ide murni Matt Ross, yang sebelumnya telah diputar untuk pertama kalinya dalam Sundance Film Festival di bulan Januari tahun yang sama. Dibintangi aktor hebat Vigo Mortensen yang mungkin sebagian besar lebih mengenalnya sebagai sosok King Aragorn di trilogi The Lord of The Rings . Vigo be...

Herbal: Sugesti Alam Yang Menyehatkan

Jauh sebelum ada profesi ahli kesehatan dengan sebutan dokter, kemudian tempat yang disebut rumah sakit, dan obat-obatan kimia, bagaimana orang-orang pada masa itu mendiagnosa penyakit dan mendapatkan pengobatan yang tepat? Pertanyaan tersebut sebagai gambaran dunia pengobatan dan kesehatan yang selalu berkembang. Nusantara di masa silam tidak dipungkiri memiliki peradaban yang tinggi termasuk dalam bidang kesehatan. Bentuk-bentuk perawatan seperti pijat, jamu, tanaman herbal dan ahli pengobatan seperti tabib maupun tanca telah ada. Terbukti sampai saat ini pijat dan jamu tetap eksis diantara pengobatan yang modern dengan teknologi mutakhir. Apabila menengok sedikit di masa walisongo jilid pertama yang merupakan utusa-utusan syiar dari kerajaan Rum (Iran) terdapat utusan yang memang ahli pengobatan yaitu Maulana Iskak. Kemudian pada era Majapahit saat Brawijaya V mengalami suatu penyakit kelamin, ahli pengobatan istana menyarankan untuk menikahi seorang gadis dari Champa. Peristiwa ...

Riset Sakjroning Urip, Sekolah Sampai Sadar

Banyak orang sekolahan, terpelajar, atau setidaknya pernah merasakan pendidikan dengan berbagai macam cara. Kalau di kampung-kampung jawa, ada taraf dan usia tertentu orang-orang tersebut akan dikenal sebagai para sesepuh pinisepuh dengan embel-embel gelar winasis. Entah standar dan kriterianya untuk menyebut seseorang dengan istilah tersebut. Bahkan kalau seandainya itu melalui mekanisme perasan-perasan yang banyak, berarti tidak sekedar punya kepandaian saja. Pada tataran itu, ia adalah seseorang yang dari kehadirannya saja sudah mampu membawa dan menebar kebahagiaan. Kebanyakan akan dipercaya untuk menduduki jabatan-jabatan luhur dan terhormat. Sampai-sampai ada kebiasaan ketika mau lewat di depan rumahnya saja dari jarak seratus meter sudah siap-siap merunduk. Apabila si empunya rumah sedang duduk di depan lalu menjawab ucapan permisi, bahagianya bukan main. Lebih-lebih kalau menyapa duluan, bisa jadi diobrolkan kemana-mana. “aku mau liwat daleme Pak Joko diaruhi.. woalah atase gu...