Disclaimer dulu ya. Bimbel tidak jelek dan tidak salah. Di negara-negara yang sistem pendidikannya maju pun bimbingan belajar tetap ada. Anak boleh ikut bimbel, orang tua boleh memilih bimbel, dan guru bimbel juga tentu punya peran yang baik dalam membantu anak belajar. Jadi, tulisan ini bukan untuk menyalahkan bimbel. Yang menarik untuk kita pikirkan justru adalah mengapa bimbel semakin dibutuhkan dan untuk apa sebenarnya anak mengikuti bimbel? Dulu saya memahami bimbingan belajar secara sederhana. Anak ikut bimbel karena ada pelajaran yang belum dipahami di sekolah. Matematika sulit, Bahasa Inggris belum lancar, atau menjelang ujian perlu latihan lebih banyak. Bimbel menjadi tempat untuk membantu anak menyelesaikan apa yang belum selesai dipahami di sekolah. Tetapi sekarang menarik. Anak yang nilainya sudah bagus pun ikut bimbel. Bahkan bimbel tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar tambahan, tetapi sudah seperti sekolah kedua: ada kelas klasikal, guru, modul, tugas, try out, bahka...
“Sementara bernalar terjadi di dalam otak, ia terjadi pula dalam akalbudi. Akalbudi merupakan dunia batin kita, di mana kita mengalami pergolakan pikiran dan emosi, di mana kita memahami, mempercayai, dan mengenang, dan di mana kita membentuk citra tentang dunia luar.” Bab 13 dari buku Batas Nalar karya seorang neurolog Donald B. Calne ini sengaja dikutip untuk membuka kerepotan kita mendalami tentang pikiran dan nalar. Ada sebuah kisah tentang petani Jawa yang menanam bawang merah di wilayah pesisir pantai. Suatu hari ia berjumpa lagi dengan teman masa kecilnya. Temannya adalah petani nanas di wilayah Lampung sejak program transmigrasi puluhan tahun silam. Melihat sahabat kecilnya ini sukses menjadi petani bawang merah, ia pun berinisitif melihat lahan pertaniannya. Pengalamannya bertani di Lampung membuatnya terpikir tentang gajah-gajah yang kadang melintas dan merusak perkebunan. Ia pun berandai-andai dan mengajukan pertanyaan, “Seandainya di sini ada Gajah melintas dan merusak...