![]() |
| Gn. Api Purba Photo by : atind |
Isu-isu lingkungan
terutama berkaitan dengan akibat eksploitasi sumber daya tanah, lautan, dan
unsur-unsur lainnya perlu mendapatkan perhatian serius. Masalah-masalah dan
isu-isu yang menghendaki pemecahan ini sangat penting untuk didiskusikan guna
mencari solusi terbaik. Daerah Istimewa Yogyakarta tergolong memiliki bentang
alam yang lengkap. Salah satu kabupatenya yaitu Gunungkidul termasuk dengan
daerah dataran tinggi dengan bentang alam yang khas. Tergabung dalam Pawonsari
(Pacitan, Wonogiri, dan Wonosari), wilayah Kabupataen Gunungkidul ini memiliki
topografi karst yang terbentuk oleh proses pelarutan batuan kapur. Dengan
adanaya potensi alam berupa perbukitan karst menjadi modal potensial bagi
pengembangan daerah. Perbukitan karst menyuguhkan berbagai panorama alam
utamanya untuk pariwisata. Batu putih/karst juga dimanfaatkan oleh industri
produk-produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi dan nilai seni tinggi.
Namun eksploitasi ini sekiranya dapat dilakukan dengan bertanggungjawab tetap memisahkan
lokasi tambang dan wilayah konservasi eksokarst dan endokarst.
Pembangunan dan
pengembangan dalam suatu wilayah harus memiliki landasan dan orientasi yang
jelas. Berbicara Gunungkidul dalam memori kita pasti kental dengan nuansa desa
dan berbagai lokasi wisata. Penduduknya masih sangat menjaga tradisi budaya dan
adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Melihat berbagai potensi yang ada
Gunungkidul sudah seharusnya memulai pembangunan yang berwawasan lingkungan dan
kearifan lokal dengan melibatkan masyarakat sepenuhnya. Jangan sampai
pembangunan ke depan mengabaikan kelestarian lingkungan. Orientasi pembangunan
akan sangat baik bila tetap berfokus pada pertanian, kelautan, dan hutan.
Barulah fokus pembangunan tersebut di kemas dalam konsep pariwisata kalau ingin
menjadi kota wisata. Pembangunan kedepan ini juga yang tentunya berfokus
mensejahterakan penduduk, perbaikan sanitasi, dan tetap mempertahankan
Gunungkidul sebagai desa. Kesemuanya bisa terbagi dalam rencana tata ruang
wilayah jangka menengah dan jangka panjang.
Sektor pariwisata di
Gunungkidul jumlahnya luar biasa banyak sehingga memang konsep kota pariwisata
berwawasan lingkungan sangat tepat. Sektor pertanian terutama lahan tadah hujan
ini agar selalu produktif perlu adanya subsidi dan penyuluhan kemudian
kemudahan dalam penjualan hasil pertanian. Potensi hasil laut yang terpusat di
wilayah pesisir selatan harus mendapatkan perhatian pada lokasi-lokasi
kemudahan tempat pelelangan ikan yang bersih dan permodalan untuk nelayan.
Kemudian nelayan dilibatkan aktif dalam pengelolaan sekitar pantai sehingga
ketika tidak melaut masih ada lahan mata pencaharian lain. Kabar terakhir
dengan adanya baron techno park yang
bekerjasama dengan Norwegia ini sangat mengesankan, yang terpenting sumber daya
masyarakat sekitar harus terlibat. Gunungkidul memiliki luas hutan 13.000 Ha,
ini bisa tetap dipertahankan dengan konsep wisata alam konservasi dan hutan
rakyat. Saat ini sebagai usaha penghijauan bisa saja dengan membuat perjanjian setiap pihak yang ingin membuat agenda di Gunungkidul harus disisipi program penghijauan. Selain itu program kkn dan pos daya perguruan tinggi yang mengambil tempat di Gunungkidul wajib mengadakan program penghijauan. Usaha-usaha kecil ini bisa membantu secara nyata.
Wacana segera dibukanya
Jalur Jalan Lintas Selatan otomatis akan semakin memudahkan akses menuju
Gunungkidul. Ini perlu disikapi segera terutama jangan sampai merusak terlalu
banyak lahan yang akan dibangun jalur. Kemudian ketika musim-musim liburan
diberbagai obyek wisata ini terjadi kemacetan yang luar biasa. Pemerintah harus
mempersiapkan konsep lokasi wisata bebas kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi
wisata sebaiknya menggunakan kendaran umum khusus seperti shuttle bu. Manfaatnya sangat banyak antara lain ; membuka lapangan
kerja baru, mengurangi emisi, meminimalisir resiko kecelakaan, dan menambah PAD
dari transportasi. Kemudian lokasi-lokasi wisata ini harus dikelola sepenuhnya
oleh pemerintah. Apabila tidak segera di tata dikhawatirkan konsep yang
berwawasan lingkungan ini akan terabaikan. Lingkungan ini mencakup kualitas
udara, kebersihan lingkungan, sanitasi, dan banyaknya lahan terbuka hijau.
Wilayah kota wonosari
sudah muali bermunculan RTH dan taman kota yang lebih tertata. Selanjutnya
perlu ada sebuah gerakan kesadaran menanam pohon khususnya yang berada di kota
karena semakin minimnya perumahan yang menyediakan sedikit lahan untuk tanaman.
Kemudian untuk wilayah desa-desa tanah kas sebaiknya tidak digunakan seluruhnya
untuk tanaman pertanian. Lebih baik ada pepohonon utamanya industri agar tidak
terlalu banyak mengeksploitasi hutan di Gunungkidul. Terakhir pengelolaan
sampah yang sebetulnya warga Gunungkidul sendiri belum terlalu mengkhawatirkan.
Mungkin Gunungkidul bisa memulai mengurangi penggunaan plastik. Dan untuk
lokasi wisata bisa saja diterapkan denda. Sering kita jumpai bahwa pengunjung
lokasi wisata yang banyak menyepelekan kebersihan dengan alasan sudah ada
petugas kebersihan.
Terakhir kesiapan
sumber daya manusianya, sebentar lagi Gunungkidul akan menghadapi arus
modernisasi. Semua elemen harus memahami keadaan budaya dari luar yang tidak
sengaja akan dibawa masuk oleh para pendatang baik dalam rangak sekedar
berwisata maupun investor yang menetap. Elemen-elemen masyarakat yang sekiranya
mampu terutama pengelola desa wisata harus bisa mencerdaskan wilayah desa itu
dulu. Komersialisasi sektor alam bisa dibarengi dengan konservasi tetapi unsur
budaya yang dikomersialisasikan rentan akan terjadinya pertukaran budaya bahkan
percampuran yang menghilangkan originalitas Gunungkidul. Gunungkidul harus
tetap desa dan ndeso dengan
lingkungan alami walaupun berpikirnya sudah mendunia.

Komentar
Posting Komentar