Langsung ke konten utama

Kecerdasan Majemuk Anak Melalui Pendidikan Seni Tari dan Drama



Seni menjadi bagian yang tidak akan terpisahkan dari diri manusia sebagai individu maupun di dalam kelompok. Seni menjadikan orang-orang memiliki rasa untuk menilai suatu keindahan dan memaknai berbagai karya cipta. Unsur untuk mengekspresikan diri sangat dominan dalam berkesenian yang tentunya akan disesuaikan dengan tingkat usia dan pengalaman pelaku seni. Dalam perkembangannya seni menjadi salah satu sarana pendidikan guna mengarahkan kreativitas dalam berbagai hal seperti musik, seni rupa, dan tari. Ketiga bagian utama dari pendidikan seni tersebut sangat bermanfaat apabila diimplementasikan dalam pengajaran dengan seimbang.
       Pendidikan seni tidak hanya bertujuan untuk mendidik peserta didik untuk terampil dalam salah satu bidang kesenian ataupun kelak menjadi seniman. Lebih dari itu yaitu memiliki tujuan membentuk karakter pribadi yang apresiatif dan kreatif dalam berkarya. Karakter ini akan muncul apabila berusaha dikenalkan sejak  masa anak-anak. Masa anak-anak sering disebut dengan masa bermain dimana aktivitas gerak sangat tinggi dan masa anak-anak pada tingkat perkembangan tertentu juga mulai mengenal bermain peran. Tidak jarang kita jumpai anak sedang bermain “pasaran” yaitu seolah-olah menjadi penjual dan pembeli. Contoh lain memerankan sebagai keluarga ada yang menjadi ayah, ibu, anak, dan lain sebagainya. Kegiatan dari bermain itu mengilhami adanya pendidikan drama yang memang tidak berdiri sendiri.  Dalam kurikulum memang drama tidak terungkap secara jelas tetapi drama ternyata sangat dibutuhkan dalam mendidik bermain peran. Bermain  peran ini dapat menjadi gambaran contoh perilaku dan nasihat bagi anak-anak.
       Kebutuhan pendidikan yang mengarah pada kegiatan memerankan ini akhirnya memunculkan inisiatif pendidikan seni tari dan drama khususnya untuk anak sekolah dasar. Corrie Hortong seorang Belanda menyatakan bahwa tari sebagai bentuk seni selalu menggunakan media badan atau tubuh manusia untuk mengungkapkan ekspresinya dalam bentuk gerak yang ritmis yang dapat dilakukan dalam ruang. Selanjutnya drama adalah bentuk suatu kehidupan yang diekspresikan secara langsung di depan penonton. Secara tersirat semua unsur ada dalam pementasan drama antara lain musik, tari, dan rupa. Tari dapat dikatakan muncul dibeberapa adegan drama saat membutuhkan ungkapan ekspresi tubuh yang indah. Drama juga memuat unsur musik sebagai pengiring dan rupa yaitu bagaimana menata dan menyajikan tampilan segala pendukung pementasan. Pendidikan seni tari-drama jelas akan memberikan banyak manfaat melihat dari bagian-bagian unsur yang ada didalamnya.
       Mengajarkan seni tari-drama tidak bisa dengan sembarangan diberikan, sesorang yang memiliki keahlian atau pengetahuan sangat diperlukan. Praktisi-praktisi di bidang seni tari dan pementasan drama sangat dibutuhkan. Praktisi ini mencakup pelaksana atau orang yang menjadi bagian suatu hasil karya. Berarti praktisi pendidikan tari-drama membutuhkan orang-orang yang memahami tari-drama sekaligus menyebarluaskan pada semua kalangan. Jika kembali pada sekolah sebagai pemegang peranan mengajarkan seni tari-drama maka guru dan pelatih dapat kita pandang sebagai praktisi.
       Manusia dibekali kemampuan yang luar biasa dengan akal dan pikiran. Secara ilmu anatomi tubuh manusia dilengkapi otak yang terbagi menjadi otak kanan dan kiri. Bagian tersebut menunjukkan kemampuan manusia yang akan dominan atau seimbang. Kemampuan otak yang baik adalah yang seimbang yaitu tentang pikiran logis matematis maupun seni. Untuk mewujudkan keseimbangan tersebut perlu dilatih dan dibiasakan. Perkembangan kecerdasan yang seimbang ini sesuai dengan pendapat kecerdasan majemuk yang berpandangan bahwa kecerdasan tidak hanya diukur dari intelektual saja namun bakat dan keahlian lain juga menjadi bagian yang menjadi tolak ukur. Sehingga pendidika sejak dini seharusnya menerapkan seni tari-drama bekerjasama dengan praktisi yang bertujuan mengembangkan multiple intelligence.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngelmu dan Ilmu

Ngelmu dan ilmu dalam sudut pandang masyarakat jawa memiliki perbedaan yang mendasar. Walaupun dalam keseharian kita memahami keduanya menujuk pada makna yang sama. Ngelmu terkadang dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu. Barangkali belum banyak yang memahami mengenai istilah ngelmu atau malah salah paham dengan istilah tersebut. Beberapa pendapat ahli juga menyatakan ngelmu adalah hasil gubahan pengaruh Bahasa Arab yang sama bermakna ilmu karena di Jawa sebelumnya menggunakan istilah kawruh . Hal ini berkaitan dengan tata bahasa jawa baru tetapi ngelmu dan ilmu akan saya coba kupas denga sudut pandang jawa yang lain. Sekitar satu tahun yang lalu teman kuliah sekaligus rekan diskusi saya pernah bercerita hal yang tidak biasa. Namanya Sarwono. Semenjak saya mengenalnya memang orang yang nuwani dalam bertutur dan bertingkah laku. Suatu malam saat kami ngopi bersama sambil diskusi ia menanyakan tentang permasalahan pendidikan yang...

Berpikir dan Bernalar (Disampaikan dalam diskusi Gerakan Sekolah Menyenangkan Guru Meraki)

“Sementara bernalar terjadi di dalam otak, ia terjadi pula dalam akalbudi. Akalbudi merupakan dunia batin kita, di mana kita mengalami pergolakan pikiran dan emosi, di mana kita memahami, mempercayai, dan mengenang, dan di mana kita membentuk citra tentang dunia luar.” Bab 13 dari buku Batas Nalar karya seorang neurolog Donald B. Calne ini sengaja dikutip untuk membuka kerepotan kita mendalami tentang pikiran dan nalar.  Ada sebuah kisah tentang petani Jawa yang menanam bawang merah di wilayah pesisir pantai. Suatu hari ia berjumpa lagi dengan teman masa kecilnya. Temannya adalah petani nanas di wilayah Lampung sejak program transmigrasi puluhan tahun silam. Melihat sahabat kecilnya ini sukses menjadi petani bawang merah, ia pun berinisitif melihat lahan pertaniannya. Pengalamannya bertani di Lampung membuatnya terpikir tentang gajah-gajah yang kadang melintas dan merusak perkebunan. Ia pun berandai-andai dan mengajukan pertanyaan, “Seandainya di sini ada Gajah melintas dan merusak...