Langsung ke konten utama

Peran Pendidikan Dalam Mengentaskan Kemiskinan


       Pendidikan menjadi indikator kemajuan sebuah bangsa dan kuatnya eksistensi negara di kalangan internasional. Bangsa yang terdidik dan terpelajar dipercaya memiliki kemampuan diberbagai bidang terutama penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pernyataan tokoh pendidikan H.A.R. Tilaar menyebutkan hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional, dan global. Dari pernyataan tersebut terdapat makna eksistensi bagi objek pendidikan yaitu peserta didik. Peserta didik setelah mengenyam pendidikan pada tingkat tertentu diharapkan dapat memiliki kemampuan sosialisasi yang baik di masyarakat, berbudaya, bahakan memiliki peranan pada tingkat lokal maupun global. Guna mencapai hal tersebut pendidikan dibuat sedemikian rupa terangkum dalam kurikulum yang berorientasi pada keluaran dan hasil dari pendidikan. Pendidikan dikatakan berhasil apabila bisa mengubah tingkah laku atau terjadi perubahan. Dalam bab ini akan dibahas lebih mendalam mengenai peranan pendidikan terkait dengan pengentasan kemiskinan.
       Kemiskinan menjadi masalah sosial yang dari masa ke masa selalu ada. Kemiskinan biasa dikenal dengan sebutan ekonomi bawah yaitu orang-orang dengan keadaan ekonomi yang tidak stabil sehingga hidupnya tidak sejahtera. Lebih spesifik lagi masalah kesejahteraan ini dapat diukur dari kemampuan individu atau keluarga untuk mencukupi kebutuhan primer. Kebutuhan primer sandang, pangan, dan papan bagi golongan ekonomi bawah tidak dengan mudah mereka penuhi. Sering kita dengar di negara kita, saudara-saudara kita mengungkapkan “mau makan saja sulit apalagi untuk kebutuhan lain”. Pernyataan tersebut menjadi sangat ironis ketika tidak kunjung terselesaikan selama bertahun-tahun. Agak mustahil memang rencana seperti pemberantasan kemiskinan, tetapi paling tidak ada usaha untuk melindungi golongan ekonomi lemah supaya dapat memenuhi kebutuhan primernya. Kembali ke masalah pendidikan, jika pendidikan dipandang sebagai salah satu usaha pengentasan kemiskinan maka akan timbul pernyataan dimana seharusnya pendidikan masuk dalam lingkaran setan kemiskinan. Secara logika golongan ekonomi lemah untuk memenuhi kebutuhan primer saja mengalami kesulitan. Pendidikan dewasa ini memang juga menjadi kebutuhan bagi sebagian besar umat manusia tetapi melihat fakta di lapangan banyak anak usia sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan. Anak tersebut rata-rata muncul dari latar belakang keluarga yang mengalami masalah kesejahteraan.  Inilah lingkaran setan selama ini terjadi anak yang datang dari latar belakang orang tidak mampu tidak dapat bersekolah akibatnya bekerja sejak kecil dengan pekerjaan tidak tetap hasilnya belum bisa sejahtera. Terkadang ada juga berkat usaha yang gigih dan semangat juang tinggi bisa mengubah nasib tetapi ini tidak berlaku untuk semua orang yang mengalami masalah ekonomi. Kita harus tetap mempercayai orang berhasil adalah orang yang mau belajar dan terpelajar.
       Pendidikan tanpa dipungut biaya diimplementasikan dalam bentuk sekolah gratis. Sekolah gratis adalah salah satu bentuk upaya supaya pendidikan bisa menyentuh semua golongan. Wajib belajar di Indonesia sudah beberapa tahun terakhir menjadi fokus program pendidikan. Kebijakan ini tidak lain sebagai upaya peningkatan mutu sumber daya manusia di Indonesia. Dosen Ilmu Pendidikan UNY yaitu Arif Rohman mengungkapkan usaha-usaha untuk mewujudkan kemajuan ekonomi ini dilakukan dengan bantuan banyak modal, termasuk diantaranya adala modal sumber daya manusia yang memiliki peran amat besar. Sumber daya manusia yang berkualitas dengan penguasaan teknologi tinggi diharapkan mampu menciptakan tenaga profesional maupun pencipta lapangan kerja. Orang tidak berpendidikan diberbagai negara termasuk Indonesia banyak yang akhirnya hanya menjadi pengangguran. Pengangguran ini menjadi dampak seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan karena tidak memiliki penghasilan yang tetap.
       Penerapan kebijakan sekolah gratis memang terwujud akan tetapi selain jumlahnya terbatas juga tidak mungkin sepenuhnya gratis, sudah pasti ada biaya untuk keperluan penunjang sekolah. Akan tetapi usaha pengentasan kemiskinan melalui pendidikan memang bentuk cara yang logis. Orang berpendidikan dan berilmu pastilah ide dan kreatifitasnya muncul jika diberikan modal lebih bisa memanfaatkan dan kalau menemukan masalah cenderung berfikir mencari jalan keluar. Seorang pemerhati bidang pendidikan Firdaus M. Yunus pernah menyatakan pengintegrasian realitas sosial dalam pendidikan menjadi penting, karena semakin tinggi pendidikan suatu masyarakat semakin cepat masyarakat tersebut melepaskan diri dari masalah-masalah. Jika dibandingkan dengan orang tidak berpendidikan akan berbeda dalam menyikapi kehidupan dan usaha mengubah kehidupannya.
       Kondisi ekstrim yang tergambar pada kelompok masyarakat yang masih berada pada tingkat ekonomi rendah dengan keterlilitan kemiskinan, belum bisa berkembang antara lain disebabkan rendahnya mutu sumber daya manusianya. Dari gambaran umum tersebut kami menarik kesimpulan bahwa memang pendidika adalah cara terbaik untuk pengentasan kemiskinan. Pendidikan tidak hanya untuk menciptakan pekerja atau pendukung sistem kapitalis lebih dari itu pendidikan menciptakan manusia yang cerdas, kritis, dan kreatif. Sumber daya manusia terdidik selain lebih dapat bersaing di dunia kerja guna meningkatkan kesejahteraan juga dapat mensejahterakan orang lain. Disinilah seharusnya peranan orang terdidik membantu mengentaskan kemiskinan dengan berbagai cara yang dapat dilakukan. Bukan tugas pendidikan secara langsung atau menjadi tanggung jawab pemerintah saja tetapi sesuai cita-cita nasional kita yang memiliki rasa sosial tinggi kesadaran saling membantu itu adalah suatu keharusan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngelmu dan Ilmu

Ngelmu dan ilmu dalam sudut pandang masyarakat jawa memiliki perbedaan yang mendasar. Walaupun dalam keseharian kita memahami keduanya menujuk pada makna yang sama. Ngelmu terkadang dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu. Barangkali belum banyak yang memahami mengenai istilah ngelmu atau malah salah paham dengan istilah tersebut. Beberapa pendapat ahli juga menyatakan ngelmu adalah hasil gubahan pengaruh Bahasa Arab yang sama bermakna ilmu karena di Jawa sebelumnya menggunakan istilah kawruh . Hal ini berkaitan dengan tata bahasa jawa baru tetapi ngelmu dan ilmu akan saya coba kupas denga sudut pandang jawa yang lain. Sekitar satu tahun yang lalu teman kuliah sekaligus rekan diskusi saya pernah bercerita hal yang tidak biasa. Namanya Sarwono. Semenjak saya mengenalnya memang orang yang nuwani dalam bertutur dan bertingkah laku. Suatu malam saat kami ngopi bersama sambil diskusi ia menanyakan tentang permasalahan pendidikan yang...

Nasihat Pendidikan Orang Jawa

    Sekarang ini teori-teori pendidikan dapat dengan mudah kita cari. Media cetak tidak terbatas bahkan jika berbicara media elekronik dengan pointer, sentuhan jari, dan isyarat kata saja puluhan bahkan ribuan susunan kalimat dari para ahli dapat kita baca. Sebut saja Ki Hadjar Dewantara, putera bangsa perintis pendidikan Indonesia dengan teori trikon (kontinyu, konvergen, konsentris) yang sangat visioner. Nama-nama pencentus pendidikan revolusioner seperti John Dewey, Freire, Michael Fullan yang notabene bukan orang pribumi tetapi teorinya menjadi rujukan di Indonesia. Fakta yang cukup mengagetkan adalah kita lebih senang mengadopsi pandangan atau paham-paham pendidikan yang sumbernya malah bukan dari bangsa sendiri. Memang sah – sah saja apabila kita berbicara dan berusaha menerapkan teori yang berasal dari praktisi pendidikan asing dalam dunia pendidikan kita. Akan tetapi sebagai orang Indonesia, bukankah lebih sesuai dengan hasil pemikiran bangsa sendiri. Kalaupu...