Langsung ke konten utama

Sekolah Dasar Peletak Pendidikan Moral



Moral menjadi dasar arahan tingkah laku untuk menjadi manusia yang baik. Lebih luas dapat dijabarkan bahwa moral sejatinya tertanam dalam diri dan merupakan hasil dari aturan atau norma yang berlaku. Setiap individu yang taat dan patuh melaksanakan aturan maka dikatakan tindakannya bermoral. Pendidikan moral yang sejatinya sangat penting karena berpengaruh langsung pada perkembangan dan hasil belajar masih kurang mendapatkan perhatian. Padahal pendidikan moral sangat penting dikenalkan sejak dini terutama pada tingkatan sekolah dasar. Pentingnya pendidikan moral pada tingkatan sekolah dasar karena pada tingkatan ini fondasi dari nilai-nilai yang baik dalam kehidupan sudah harus tertanam. Pendidikan sekolah dasar berarti menjadi dasar untuk melangkah pada jenjang diatasnya. Jika nilai moral pada tingkatan dasar sudah mulai tertanam maka setidaknya sudah ada bekal baik. Akan nampak berbeda hasilnya jika pada tingkatan dasar moral sudah mulai rusak maka di jenjang selanjutnya cenderung semakin rusak.
Pendidikan moral dapat diartiakan sebagai pendidikan nilai atau pendidikan sikap. Dalam hal ini yang disampaikan melalui pendidikan moral adalah nilai-nilai yang termasuk dalam bersikap. Nilai-nilai tersebut meliputi perasaan, sikap, emosi, kemauan, keyakinan, dan kesadaran. Sekolah seharusnya menjadikan pendidikan moral ini hal utama dalam penyampaian pembelajaran. Pendidikan moral tidak hanya disampaikan melalui pelajaran tertentu saja tetapi membuat semua pelajaran menyentuh pada unsur moral.
Sekolah-sekolah sekarang ini hanya mengejar pada prestasi akademik saja sehingga kurang memperhatikan pada segi moral peserta didik. Banyak anggapan pendidikan moral menjadi tugas guru kewarganegaraan ataupun agama saja. Hal itu sangat keliru karena pendidikan tidak mungkin hanya berjalan dari satu hal saja untuk mencapai hasil yang maksimal. Keseluruhan pembelajaran jika selalu dihubungkan dengan nilai moral akan lebih mudah di serap peserta didik. Dan menjadi hal yang wajar dalam semua pembelajaran sikap-sikap baik selalu mewarnai prosesnya karena sudah tertanam moral tersebut. Pendidikan moral memang bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru di sekolah, karena keluarga dan lingkungan juga berperan dalam pembentukan karakter anak. Proses belajar yang hanya berorientasi pada hal akademik akan mengakibatkan kejenuhan pada peserta didik. Peserta didik yang sudah jenuh tanpa dibekali moral menjadi ancaman karena tingkah lakunya untuk mengatasi kejenuhan itu biasanya berujung pada perbuatan negatif.
Pendidikan moral pada umumnya diarahkan untuk membina dan menanamkan nilai moral agar menjadi benteng dari pengaruh negatif. Keluar dari sudut pandang peserta didik adalah pendidik atau guru. Guru akan menjadi sosok penting dalam pendidikan moral ini. Tidak hanya cara menyampaikan nilai moral dan meyakinkan peserta didik tetapi bagaimana sosok guru bisa menjadi contoh. Lingkungan pendidikan memang yang paling kondusif untuk pendidikan moral. Melalui pembelajaran pembiasaan bisa dimulai, mungkin selama  ini pemahaman individu mengenai moral adalah pada segi agama. Benar agama berpengaruh terhadap moral karena berbentuk keyakinan atau kepercayaan yang dijalani. Akan tetapi menjadi lebih baik lagi jika pembelajaran di sekolah juga mementingkan pada penanaman budi pekerti luhur.
Guru sebagai model pembelajaran dan keberhasilan pendidikan moral adalah sebuah keterkaitan. Peserta didik tentunya akan lebih jelas jika diberikan contoh perilaku. Untuk tingkatan sekolah dasar guru memang masih menjadi sosok yang terpandang dan inilah pentingnya pendidik bermoral. Bermoral dalam artian tingkah laku, tutur kata, dan perbuatannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngelmu dan Ilmu

Ngelmu dan ilmu dalam sudut pandang masyarakat jawa memiliki perbedaan yang mendasar. Walaupun dalam keseharian kita memahami keduanya menujuk pada makna yang sama. Ngelmu terkadang dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu. Barangkali belum banyak yang memahami mengenai istilah ngelmu atau malah salah paham dengan istilah tersebut. Beberapa pendapat ahli juga menyatakan ngelmu adalah hasil gubahan pengaruh Bahasa Arab yang sama bermakna ilmu karena di Jawa sebelumnya menggunakan istilah kawruh . Hal ini berkaitan dengan tata bahasa jawa baru tetapi ngelmu dan ilmu akan saya coba kupas denga sudut pandang jawa yang lain. Sekitar satu tahun yang lalu teman kuliah sekaligus rekan diskusi saya pernah bercerita hal yang tidak biasa. Namanya Sarwono. Semenjak saya mengenalnya memang orang yang nuwani dalam bertutur dan bertingkah laku. Suatu malam saat kami ngopi bersama sambil diskusi ia menanyakan tentang permasalahan pendidikan yang...

Nasihat Pendidikan Orang Jawa

    Sekarang ini teori-teori pendidikan dapat dengan mudah kita cari. Media cetak tidak terbatas bahkan jika berbicara media elekronik dengan pointer, sentuhan jari, dan isyarat kata saja puluhan bahkan ribuan susunan kalimat dari para ahli dapat kita baca. Sebut saja Ki Hadjar Dewantara, putera bangsa perintis pendidikan Indonesia dengan teori trikon (kontinyu, konvergen, konsentris) yang sangat visioner. Nama-nama pencentus pendidikan revolusioner seperti John Dewey, Freire, Michael Fullan yang notabene bukan orang pribumi tetapi teorinya menjadi rujukan di Indonesia. Fakta yang cukup mengagetkan adalah kita lebih senang mengadopsi pandangan atau paham-paham pendidikan yang sumbernya malah bukan dari bangsa sendiri. Memang sah – sah saja apabila kita berbicara dan berusaha menerapkan teori yang berasal dari praktisi pendidikan asing dalam dunia pendidikan kita. Akan tetapi sebagai orang Indonesia, bukankah lebih sesuai dengan hasil pemikiran bangsa sendiri. Kalaupu...