Langsung ke konten utama

Bimbel: Menemukan Cara Belajar yang Lebih Baik atau Ingin Terlihat Lebih Baik?

Disclaimer dulu ya. Bimbel tidak jelek dan tidak salah. Di negara-negara yang sistem pendidikannya maju pun bimbingan belajar tetap ada. Anak boleh ikut bimbel, orang tua boleh memilih bimbel, dan guru bimbel juga tentu punya peran yang baik dalam membantu anak belajar. Jadi, tulisan ini bukan untuk menyalahkan bimbel. Yang menarik untuk kita pikirkan justru adalah mengapa bimbel semakin dibutuhkan dan untuk apa sebenarnya anak mengikuti bimbel?

Dulu saya memahami bimbingan belajar secara sederhana. Anak ikut bimbel karena ada pelajaran yang belum dipahami di sekolah. Matematika sulit, Bahasa Inggris belum lancar, atau menjelang ujian perlu latihan lebih banyak. Bimbel menjadi tempat untuk membantu anak menyelesaikan apa yang belum selesai dipahami di sekolah. Tetapi sekarang menarik. Anak yang nilainya sudah bagus pun ikut bimbel. Bahkan bimbel tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar tambahan, tetapi sudah seperti sekolah kedua: ada kelas klasikal, guru, modul, tugas, try out, bahkan peringkat. 

Lalu sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apakah pelajaran di sekolah memang semakin banyak sehingga tidak cukup diselesaikan di sekolah? Atau jangan-jangan pendidikan kita memang semakin senang dengan kompetisi? Walaupun sistem kompetisi dan penyaringan yang dilakukan lembaga pendidikan dengan terstandarisasi itu memang cara paling efektif sampai hari ini ketimbang harus disuruh presentasi satu-satu. Ya cuma rule of the game-nya harus jelas dan wasitnya bener-bener netral. AI kayaknya bisa sih jadi wasit dia enggak peduli ordal dan titipan 🤣.

Baik, kita kembali ke topik bimbingan belajar. Anak belajar di bimbel bisa jadi bukan karena belum bisa, tetapi karena takut kalah. Walaupun faktornya banyak salah satunya target orangtuanya. Kita mungkin bisa merenung sedikit kadang-kadang orangtua ini menaruh harapan tertentu. Harapan itu berasal dari pengalaman pribadinya entah kapan sepanjang hidupnya dan kebetulan gagal dilakukan oleh orang tua itu sendiri kemudian dilimpahkan kepada anaknya. Kerap kali diawali dengan kata-kata "kamu harus... dst." Padahal yang mengharuskan itu juga siapa? Yang ngarep-arep dan memproduksi anak lahir ke dunia kan ya orangtuanya lalu tiba-tiba dia dibebani macam-macam. Oke ini dibatasi tentang pemahaman ilmu biologi filial saja lho ya jangan dibawa ke wilayah ilmu lain nanti malah jadi perdebatan nilai dan moral.

Jadi, kalau semua harus menang maka belajar jadi sempit urusan menang kalah. Ya mending ikut balapan lari kalcer saja. Setidaknya garis finishnya jelas. 🤣 Belajar bukan sprint jarak pendek melainkan perjalanan panjang dengan garis finishnya adalah resiko terbesar yang dialami makhluk hidup yakni kematian. Sejak dari buaian hingga ke liang lahat. 

Sementara dalam kehidupan, gagal itu dialami setiap insan. Yang penting bukan bagaimana anak selalu menang, tetapi bagaimana ia menyikapi ketika gagal. Sayangnya, sekolah sering lebih sibuk mengajarkan bagaimana mendapatkan keberhasilan dan tidak pernah mengajari menerima kegagalan, lebih sering merayakan juara daripada membicarakan apa yang bisa dipelajari dari kekalahan. Padahal jika misal ukurannya prestasi akademik, anak yang mendapat nilai 60 predikat C lalu belajar sampai menjadi 75 dengan predikat B misalnya sebenarnya sedang bertumbuh, meskipun temannya mendapat 90. Bukankah pendidikan mestinya membantu anak membandingkan dirinya dengan dirinya yang kemarin, bukan terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain?

Mungkin di sinilah persoalan bimbel menjadi lebih menarik. Bimbel tidak salah. Kompetisi juga tidak selalu buruk. Masalahnya adalah ketika keduanya membuat anak lupa untuk bertanya, “Untuk apa saya belajar?” Apakah untuk menjadi versi terbaik dari dirinya atau supaya terlihat lebih baik daripada orang lain? Ilmu tidak berhenti pada apa yang diketahui, tetapi harus menjadi perbuatan. Maka nilai, ranking, sertifikat dan piala mestinya bukan tujuan akhir pendidikan. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada diri anak setelah semua itu. Apakah ia menjadi lebih tahu, lebih mampu, lebih mandiri, lebih berani, lebih peduli, dan lebih bermanfaat? 

Jangan sampai kita sibuk membuat anak terlihat unggul, tetapi lupa membantu mereka menemukan keunggulannya sendiri. Durung Punjul Keselak Jujul, belum benar-benar unggul sudah terburu-buru ingin terlihat unggul. Sebab menjadi lebih baik tidak membutuhkan orang lain untuk berada di bawah kita. Menjadi lebih baik cukup dengan terus bertumbuh dari diri kita yang kemarin. Dan pada akhirnya, bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Barangkali pendidikan bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri di antara yang lain, tetapi tentang bagaimana seseorang menggunakan apa yang ia miliki untuk membuat kehidupan di sekitarnya menjadi lebih baik.

Memang pendidikan tidak berdiri di ruang kosong. Maka ada pula sudut pandang seperti ini...

Anak datang ke sekolah dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang sejak kecil terbiasa membaca. Ada yang memiliki banyak buku. Ada orang tua yang dapat mendampingi belajar. Ada yang mempunyai akses teknologi. Ada yang dapat mengikuti berbagai kursus dan bimbingan belajar.

Anak-anak itu mungkin duduk di kelas yang sama.

Mendengarkan guru yang sama.

Mengerjakan soal yang sama.

Tetapi modal yang mereka bawa tidak sama.

Maka ketika seseorang mendapatkan nilai lebih tinggi, kita tidak selalu dapat buru-buru mengatakan bahwa ia lebih pintar.

Mungkin ia memang lebih tekun.

Mungkin ia memang lebih mampu.

Tetapi mungkin juga ia mempunyai kesempatan belajar yang lebih banyak.

Bimbel dalam konteks ini menjadi sesuatu yang menarik. Ia dapat membantu anak yang kesulitan. Tetapi pada saat yang sama, ia juga dapat menjadi sarana bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli tambahan kesempatan belajar.

Akhirnya pendidikan yang secara formal seharusnya menjadi jalan untuk membuka kesempatan justru dapat ikut memperlebar jarak kesempatan

Jadi, dalam konteks kehidupan ini sebenarnya lebih menguntungkan kompetisi atau kerjasama? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berpikir dan Bernalar (Disampaikan dalam diskusi Gerakan Sekolah Menyenangkan Guru Meraki)

“Sementara bernalar terjadi di dalam otak, ia terjadi pula dalam akalbudi. Akalbudi merupakan dunia batin kita, di mana kita mengalami pergolakan pikiran dan emosi, di mana kita memahami, mempercayai, dan mengenang, dan di mana kita membentuk citra tentang dunia luar.” Bab 13 dari buku Batas Nalar karya seorang neurolog Donald B. Calne ini sengaja dikutip untuk membuka kerepotan kita mendalami tentang pikiran dan nalar.  Ada sebuah kisah tentang petani Jawa yang menanam bawang merah di wilayah pesisir pantai. Suatu hari ia berjumpa lagi dengan teman masa kecilnya. Temannya adalah petani nanas di wilayah Lampung sejak program transmigrasi puluhan tahun silam. Melihat sahabat kecilnya ini sukses menjadi petani bawang merah, ia pun berinisitif melihat lahan pertaniannya. Pengalamannya bertani di Lampung membuatnya terpikir tentang gajah-gajah yang kadang melintas dan merusak perkebunan. Ia pun berandai-andai dan mengajukan pertanyaan, “Seandainya di sini ada Gajah melintas dan merusak...

Ngelmu dan Ilmu

Ngelmu dan ilmu dalam sudut pandang masyarakat jawa memiliki perbedaan yang mendasar. Walaupun dalam keseharian kita memahami keduanya menujuk pada makna yang sama. Ngelmu terkadang dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu. Barangkali belum banyak yang memahami mengenai istilah ngelmu atau malah salah paham dengan istilah tersebut. Beberapa pendapat ahli juga menyatakan ngelmu adalah hasil gubahan pengaruh Bahasa Arab yang sama bermakna ilmu karena di Jawa sebelumnya menggunakan istilah kawruh . Hal ini berkaitan dengan tata bahasa jawa baru tetapi ngelmu dan ilmu akan saya coba kupas denga sudut pandang jawa yang lain. Sekitar satu tahun yang lalu teman kuliah sekaligus rekan diskusi saya pernah bercerita hal yang tidak biasa. Namanya Sarwono. Semenjak saya mengenalnya memang orang yang nuwani dalam bertutur dan bertingkah laku. Suatu malam saat kami ngopi bersama sambil diskusi ia menanyakan tentang permasalahan pendidikan yang...