Langsung ke konten utama

Postingan

Indonesia Menghitung Hari

“Kalau banyak ketimpangan di negara bangsa ini, akankah NKRI sempat menikmati ulang tahunnya lebih dari angka seratus?” Pernyataan sekaligus pertanyaan yang menggelitik ini pernah saya temui dalam sebuah literasi mengenai chaos dan cosmos. Kekacuan akan menciptakan keteraturan tetapi sangat mungkin juga apabila kekacuan itu berkepanjangan maka kehancuran yang didapati. Indonesia akan segara memasuki era baru peta kekuatan politik dan ekonomi dunia. Perdagangan bebas slah satunya, tak lama lagi menunggu hitungan bulan kita akan memasuki AFTA (Asean Free Trade Area) di 2015 dan WTO di 2020. Lalu apa yang harus dipersiapkan oleh negara bangsa ini? Sebelum berbicara persiapan menghadapi era perdagangan bebas ini hendaknya kita sedikit menganalisa fenomena yang sebenarnya terjadi. Dalam perkembangan ekonomi dan kebutuhan manusia berkaitan dengan konsumsi. Konsumsi yang tinggi menuntut pula produksi yang singkat tetapi menghasilkan banyak barang. Barang-barang konsumsi yang bisa ...

Wong Jawa Hilang Kejawaannya

Berbicara Wong Jawa pasti pikiran dan asumsi kita menggambarkan orang-orang dengan ciri khasnya yang halus dan lemah lembut. Namun, Jawa sebenarnya tidak hanya terbatas pada ciri itu saja. Pulau Jawa yang membentang di selatan kepualuan nusantara ini juga memiliki beragam corak. Wilayahnya terbagi menjadi 5 propinsi yaitu Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kepadatan penduduknya tertinggi yaitu 60% penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Kelompok etnik yang ada meliputi Sunda, Jawa, Tengger, Badui, Osing, Banten, Cirebon, dan Betawi. Jawa sendiri jika ditilik dari budayanya terbagi menjadi 4 wilayah budaya utama: sentral budaya jawa (kejawen) di bagian tengah, budaya pesisir Jawa (pasisiran) di pantai utara, budaya Sunda (Pasundan) di bagian barat, dan budaya Osing (Blambangan) di sisi timur. Budaya Madura terkadang dianggap yang kelima, karena erat hubungannya dengan budaya pesisir Jawa. Begitu pula dengan budaya Bali. Sering kita men...

Nasihat Konfusianisme Dalam Politik Pemerintahan

Ajaran politik di China atau yang sekarang kita kenal dengan Republik Rakyat Tiongkok/Tionghoa banyak dipengaruhi oleh kearifan lokalnya. Watak bangsa China tidak berubah dari ajaran kebijaksanaan yaitu konfusianisme yang telah berkembang selama 2000 tahun. Ajaran Sang Maha Guru tersebut bisa disimpulkan menjadi beberapa hal diantaranya yang menjadi larangan yakni tidak bersedia melihat segala sesuatu sebagai yang benar satu-satunya, ia pantang bersikap keras kepala, dan sikap mementingkan diri sendiri. Hal-hal yang menjadi pokok ajaran Maha Guru masih terus dibawa oleh pemimpin-pemimpin negeri tirai bambu. Berkaitan dengan ajaran konfucu mengenai tata negara bisa sedikit tergambarkan dari beberapa percakapan berikut ini. Seseorang menteri kerajaan pernah bertanya kepada Maha Guru. “Bagaimana cara mengatasi pencuri yang merajalela?” Maha Guru menjawab, “bila kamu bebas dari rasa ingin memiliki, mereka tidak akan mencuri, sekalipun engkau bayar mereka untuk perbuatan itu.” Mungkin ...

Pendidikan : Apakah Cara Efektif Mengajarkan Moral?

“Kekayaan dan pangkat memang diinginkan setiap orang. Tapi, bila itu hanya membawa pemiliknya menuju jalan kesengsaraan, lebih baik ditinggalkan saja. Kemiskinan dan kejelataan adalah hal-hal yang harus dijauhi. Namun, apabila tak membawa kamu ke jalan yang rusak, terimalah” (Maha Guru) Pendidikan dengan berorientasi title dan ijazah adalah sebuah permasalahan baru. Penggemblengan yang menjadikan seolah-olah title dan ijazah adalah segalanya dibandingkan makana pendidikan itu sendiri. Tujuan pendidikan menjadi sempit yang tidak mencerdaskan malah membodohi secara halus. Akibatnya ajaran moral tak pernah didapatkan selama proses pendidikan berlangsung. Agama, karakter, dan budi pekerti hanya menjadi bagian mengejar title dan ijazah karena orientasi nilai. Bukan pada bagaimana pendidikan termasuk didalamnya agama, karakter, budi pekerti yang membentuk moral sehingga memperbaiki individu yang belajar. Title  yang diberikan karena ujian pada tingkatan-tingkatan tertentu. Ijaza...

Seni Tidak Boleh Jadi Alasan

Media informasi dan telekomunikasi tidak bisa dipungkiri menjadi rekan keseharian masyarakat saat ini. Dimanapun berada dalam waktu yang tidak terbatas media informasi dan telekomunikasi ini menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat. Media berupa cetak maupun elektronik sudah menjadi bagian kebutuhan dasar hajat hidup orang banyak. Media selalu menyediakan berbagai macam hal yang melayani, mengabarkan, dan menghibur dengan praktis. Konten yang disediakan juga beragam bahkan tiap detik selalu ada saja berbagai pembaharuan. Up to date istilah ini sering digunakan untuk hal-hal baru yang wajib diketahui. Berbicara media di Indonesia semuanya memiliki tempat di hati penggemarnya masing-masing baik cetak maupun elektronik. Semua ada manfaatnya dan ada pula sisi negatif yang hadir. Kemudahan akses dari berbagai penjuru dunia, dari kalangan petinggi, pesohor, maupun kalangan biasa dapat didapatkan dengan mudah. Keadaan era globalisasi yang tanpa skat pembatas antar bangsa ini semakin mem...

Guru Bukan Menggurui

“Murid gurune pribadi, guru muride pribadi, pamulangane sengsarane sesami, ganjarane ayu lan arume sesami” Ungkapan dengan basa jawa di awal tulisan ini apabila diartikan yaitu murid gurunya pribadi, guru muridnya pribadi, tempat belajarnya penderitaan sesama, hadiahnya kebaikan dan keharuman sesama. Apabila diambil maknanya ungkapan murid gurune pribadi, guru muride pribadi bahwasanya di dalam setiap diri manusia terdapat potensi guru dan murid. Di dalam diri manusia terdapat jiwa guru sejati, sekaligus murid dari sang guru sejati. Tempat belajarnya penderitaan bersama berarti realita dalam kehidupan yang dijalani setiap manusia. Belajar dari kehidupan itu sendiri, yaitu apabila seseorang menjalani kehidupan ini secara ikhlas dan tawakal dengan cermat, jujur, terbuka, bijaksana, dan tidak putus asa. Hingga seseorang itu benar-benar berilmu dan menemukan hikmah kehidupan, dia akan memperoleh semacam ganjaran. Ganjaran ayu lan arume sesami , berarti orang berilmu itu punya k...

MENGERTI INDONESIA

Semangat patriotisme, jiwa nasionalisme, bela tanah air, tanah tumpah darahku Indonesia! Jargon-jargon populer ini selalu menggema. Ketika diteriakkan seolah jiwa raga ini demi cinta kepada Indonesia. Tetapi apakah kita pernah bertanya, “Apa itu Indonesia? Darimana nama itu berasal? Mengapa harus Indonesia?” Bagi saya Indonesia sangatlah bermakna, ada tujuan ketika nama ini dipilih oleh pendiri bangsa. Kita sebagai Bangsa Indonesia seharusnya mengerti maknanya. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki sejarah yang panjang untuk diuraikan. Nama Indonesia pun menjadi bagian perjalanan sejarah negara bangsa ini. Menengok masa kejayaan Majapahit ingatan tertuju pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapanya untuk mempersatukan nusantara. Nah, nusantara kata yang juga sering digunakan untuk menggambarkan negeri dengan gugusan pulau dan laut luas yang membentang dari sabang sampai merauke. Nusantara pada masa kejayaan Majapahit ini memiliki w...