Langsung ke konten utama

Postingan

Jagongan

Bercakap-cakap dengan kerabat, sanak famili, teman sejawat, dan tetangga dekat menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Suasana yang terbangun umumnya cenderung hangat dan akrab. Obrolan sederhana sampai yang tidak masuk akal jadi hiasan-hiasan rembug . Makan tidak makan asal kumpul itulah jagongan. Kalaulah ada wedang atau minuman itulah simbolik sebagai wedang “ngawekani kadang” yaitu merawat paseduluran. Belakangan ini jagongan diistilahkan sebagai diskusi, seminar, kuliah umum, workshop , debat, kajian, sidang, menghadiri perayaan dan lain sebagainya. Istilah-istilah itu tak lebih sebagai aturan main yang berkembang, tafsiran-tafsiran dari suatu kelompok masyarakat, kebenarannya ya tetap jagongan . Kalau dipikir-pikir budaya kebiasaan jagongan ini identik dengan masyarakat kita. Hanya saja ada keunikan terjadi saat ini. Strata dan status sosial dalam kehidupan bermasyarakat telah berubah. Sumber-sumber informasi mudah didapatkan sehingga berpengaruh mewarnai isi jagongan yan...

Kang Mudek dan Noni-Noni Belanda

Gangster-gangster  banyak diceritakan saling berebut kekuasaan dan bentuk-bentuk perilaku buruk. Sebenarnya gangster hanyalah sebuah bentuk interaksi-interaksi yang membentuk sikap mengelompok. Gang terkuat yang berhak atas segala potensi lingkungannya dengan sebebas-bebasnya. Jika ada yang mencoba menghalangi, mempersulit, atau bahkan menegur gang terkuat maka anggota kelompok gang tersebut tidak akan tinggal diam. Penghancuran, pelemahan, dan segala bentuk intimidasi dilakukan. Tetapi tidak perlu dikhawatirkan gang sekejam cerita itu hanya ada di film-film dengan kreasi-kreasi sang sutradara. Kalaulah ternyata kita saat ini sedang menjumpai bentuk-bentuk kekejaman atau keadaan-keadaan yang menjadi semakin dipersulit, mungkinkah ada side effect sebuah dominasi kekuatan gangster . Akankah kekuatan-kekuatan sebuah paguyuban, patembayan, ormas, organisasi politik, sosial, maupun pemerintahan yang mengarah pada tabiat kegangsterannya. Tak jarang kita jumpai saling menjatuhkan...

His..story...

Sejarah tak lain berupa hidup dan kehidupan itu sendiri. Hidup bisa disinonimkan dengan kata hayyu. Kok, namanya sejarah tidak disebut istilah hayyu saja? Istilah sejarah sendiri berawal dari kata berbahasa arab syajaratun yang berarti pohon. Pohon tak bisa terpisahkan dari kayu keduanya memenuhi syarat sebagai bagian dari saling. Setiap pohon berkayu dan kayu adalah pohon.  Jadi, penulis perkirakan awalnya untuk menjelaskan peristiwa hidup dan kehidupan yang terjadi pada waktu lampau disebutnya hayyu . Hayyu dimudahkan menjadi istilah kayu.  Hayyu dan kayu mengklaim kebenaran istilah masing-masing. Pada akhirnya kompromi diantara kedua kelompok tersebut menunjuk pada pilihan syajaratun yang otomatis mudah diterima kalangan hayu dan kayu. Kelompok hayyu terwakili dengan istilah pohon yang menggambarkan kompleksitas hidup. Di lain pihak kelompok kayu menerima syajaratun sebagai istilah pengganti kata kayu. Penjabaran tadi hanya karangan saya sendiri. Karangan itu sek...

Memahami Budaya

Ternyata memahami budaya itu gampang-gampang susah. Termasuk membedakan yang mana budaya yang mana bukan. Saking rumitnya kadang dianggap saja apa-apa yang disukai khalayak itu jadi budaya. Manusia itu satu sama lainnya unik dan berbeda. Perbedaan yang khas itu akhirnya kita kenal sebagai individu tetapi antar-individu ini ada ketergantungan. Ketergantungan bersama yang akhirnya jadi kebiasaan dan menunjukkan ciri khas maka jadilah budaya. Setiap komunal dalam skala budaya itu pasti punya kekhususan misal bahasa, garis keturunan suku bangsa, benda-benda hasil karya, maupun tata kehidupan. Maka melihat dengan kacamata budaya itu berarti berpikir holistik. Kesalahan kita terkadang terjadi etnosentrisme yang tak terkendali. Tidak saja memandang budaya sendiri sebagai yang paling baik tetapi juga menelaah budaya lain dengan kacamata budaya sendiri. Akibatnya tidak dipungkiri terkadang menjadi permasalahan ketika ada dalam keadaan sulit menerima orang dengan kebiasaan yang berbeda. P...

Malu Sama Kucing

Kata seorang psikolog asal California Syekh Freger, peliharalah hewan untuk belajar mencintai. Ini bukan dalam artian menyamakan manusia dengan hewan tetapi berproses menuju belajar mencintai. Dimana kita melayani hewan kita tanpa mengharap balas jasa dari hewan peliharaan. Disitulah inti gambaran sebuah cinta melayani semua dengan tulus. Kami di rumah kebetulan mempunyai 2 ekor kucing berjenis persia dan himalaya. Keluarga kami memang senang dengan kucing, sampai-sampai kucing peliharaan ini dianggap sebagai anggota keluarga tambahan. Ada cerita belum lama ini tentang kelakuan kucing kami. Setiap hari ada waktu minimal 4-5 jam kucing dikeluarkan dari kandangnya. Saat dikeluarkan itu salah satu kucing sebut saja si item memanjat pagar depan rumah setinggi  1,2 m. Tak berapa lama sampai di pagar tetangga yang lebih tinggi dan terus naik sampai akhirnya lepas dari pandangan saya. Sore hari waktunya memberi makan tetapi si item belum juga kembali dan setelah saya cari ada di atas...

Belajar Dari Gelas

Belajar saat ini bukan berusaha mencari masalah tetapi malah kadang takut menghadapi masalah. Sehingga belajar hasilnya bukan menyelesaikan persoalan hanya menghindar dari permasalahan bahkan muncul permasalahan baru. Kira-kira seperti itu gambaran umumnya tentang belajar akhir-akhir ini. Keadaan ini tak lain akibat sudut pandang belajar yang menyempit yaitu terbatas belajar adalah sekolah. Padahal belajar itu semenjak lahir hingga mati karena belajar yang sesungguhnya melibatkan pikiran, perasaan, dan perbuatan selama hidup. Adanya belajar yang berpandangan hanya ruang sekolah akibatnya terfokus pada kemampuan menguasai ilmu-ilmu yang sudah cendurung terpisah-pisahkan. Selain itu para pelaku belajar akhirnya menjadi objek bulan-bulanan untuk menampung ini dan itu dengan terpaksa. Belajar tak ubahnya memindahkan pengetahuan saja yang bersifat hafalan dan dengar. Tidak terjadi sistem dialog sehingga ada anggapan guru segalanya dan murid kosong belaka. Anak yang belajar pun terbiasa...

Kantornya Hati Nurani

Berbicara soal kantor ada cerita unik. Ibu saya setiap pulang kerja sering mengajak ngobrol tentang perusahaan tempat beliau bekerja sampai saat ini. Ibu saya ini tergolong karyawan baru, setelah sekian lama menggeluti dunia wiraswasta akhirnya malah bekerja di perusahaan. Di kantor tempat ibu saya bekerja sedang ada perubahan bentuk dari perusahan ke perseroan. Perubahan itu ternyata menimbulkan beberapa permasalahan di kalangan karyawan. Mungkin semacam terkejut dengan sistem baru yang tidak biasa. Perubahan yang terjadi ini karena terbentur aturan bahwa perusahaan dengan kriteria tertentu dan aset yang dimiliki harus bertrnasformasi menjadi sebuah perseroan. Dengan perseroan maka dikenalah ada direksi bukan lagi perusahaan yang urusan perkantorannya dipegang sendiri oleh si owner. Ibu saya menceritakan permasalahan-permasalahan yang dihadapi karyawan seperti aturan kontrak kerja dan berbagai atribut lainnya. Misalnya saat dipegang langsung oleh pemilik pengelolaan lebih bersifa...