Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Chatting Maka Aku Bahagia

Ini adalah sebuah kisah klasik kami yang berlangsung di masa depan. Pria-pria selo seperjuangan menggapai impian. Ada bentuk klasiknya cara orang berbincang masa lalu dengan gaya berbeda, melalui media sosial berbasis teknologi gadget dan internet di masa kini. Saya pikir isi obrolan pun akan tetap sama hanya tema saja yang akan menyesuikan pada zamannya. Mulai dari sekedar bercanda dengan lelucon-lelucon konyol cerita masa lalu antar teman sampai yang ter- up to date . Misalnya membicarakan teman yang jadi juragan batu akik, dan seolah-olah kita semua menjadi terbius kedhasyatan batu bacan yang sering di gembor-gemborkan teman kami. Dan kami membayangkan kesehariannya mengamati setiap batu adalah aset yang jika digosok dengan perioda dan tekanan tertentu akan menghasilkan batu berkualitas. Teman saya mungkin dahulu benci dengan hukum fisika Newton yaitu bagaimana suatu gaya mempengaruhi benda tetapi dengan telaten ia sekarang menerapkan pada setiap batu-batu temuannya. Luar biasa.....

Tukang-Tukang dan Para Teknisi

Gejolak-gejolak yang muncul dari pembicaraan sangat beragam. Semua punya asumsi sendiri, pendapat berbeda, fakta-fakta kontras, dan argumentasi kuat. Analisa semakin hari semakin menajam dari permasalahan-permasalahan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hingga bertemu pada satu titik utama sumber sebab musabab peristiwa-peristiwa yang tidak karuan imbasnya. Begitulah kurang lebih suara-suara yang sering menghinggapi telinga, merasuki pikir, dan cukup membuat perasaan diantara kita gelisah. Seolah ingin menyerukan bahwa zaman ini sudah tak layak untuk dipertahankan. Ada seorang laki-laki paruh baya yang pernah berkata kepada saya, “kalau kehidupan di negara bangsa ini ingin baik ya cukup mandiri dan berdikari saja, tapi syaratnya harus taubat dahulu.” Keadaan negara bangsa ini memang sedang carut marutnya. Butuh sebuah solusi jangka panjang untuk berbenah. Bukan terus berpikir pendek yang berbau kepentingan-kepentingan sesaat apalagi kesepakatan-kesepakatan golongan tertentu...

Jagongan

Bercakap-cakap dengan kerabat, sanak famili, teman sejawat, dan tetangga dekat menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Suasana yang terbangun umumnya cenderung hangat dan akrab. Obrolan sederhana sampai yang tidak masuk akal jadi hiasan-hiasan rembug . Makan tidak makan asal kumpul itulah jagongan. Kalaulah ada wedang atau minuman itulah simbolik sebagai wedang “ngawekani kadang” yaitu merawat paseduluran. Belakangan ini jagongan diistilahkan sebagai diskusi, seminar, kuliah umum, workshop , debat, kajian, sidang, menghadiri perayaan dan lain sebagainya. Istilah-istilah itu tak lebih sebagai aturan main yang berkembang, tafsiran-tafsiran dari suatu kelompok masyarakat, kebenarannya ya tetap jagongan . Kalau dipikir-pikir budaya kebiasaan jagongan ini identik dengan masyarakat kita. Hanya saja ada keunikan terjadi saat ini. Strata dan status sosial dalam kehidupan bermasyarakat telah berubah. Sumber-sumber informasi mudah didapatkan sehingga berpengaruh mewarnai isi jagongan yan...

Kang Mudek dan Noni-Noni Belanda

Gangster-gangster  banyak diceritakan saling berebut kekuasaan dan bentuk-bentuk perilaku buruk. Sebenarnya gangster hanyalah sebuah bentuk interaksi-interaksi yang membentuk sikap mengelompok. Gang terkuat yang berhak atas segala potensi lingkungannya dengan sebebas-bebasnya. Jika ada yang mencoba menghalangi, mempersulit, atau bahkan menegur gang terkuat maka anggota kelompok gang tersebut tidak akan tinggal diam. Penghancuran, pelemahan, dan segala bentuk intimidasi dilakukan. Tetapi tidak perlu dikhawatirkan gang sekejam cerita itu hanya ada di film-film dengan kreasi-kreasi sang sutradara. Kalaulah ternyata kita saat ini sedang menjumpai bentuk-bentuk kekejaman atau keadaan-keadaan yang menjadi semakin dipersulit, mungkinkah ada side effect sebuah dominasi kekuatan gangster . Akankah kekuatan-kekuatan sebuah paguyuban, patembayan, ormas, organisasi politik, sosial, maupun pemerintahan yang mengarah pada tabiat kegangsterannya. Tak jarang kita jumpai saling menjatuhkan...

His..story...

Sejarah tak lain berupa hidup dan kehidupan itu sendiri. Hidup bisa disinonimkan dengan kata hayyu. Kok, namanya sejarah tidak disebut istilah hayyu saja? Istilah sejarah sendiri berawal dari kata berbahasa arab syajaratun yang berarti pohon. Pohon tak bisa terpisahkan dari kayu keduanya memenuhi syarat sebagai bagian dari saling. Setiap pohon berkayu dan kayu adalah pohon.  Jadi, penulis perkirakan awalnya untuk menjelaskan peristiwa hidup dan kehidupan yang terjadi pada waktu lampau disebutnya hayyu . Hayyu dimudahkan menjadi istilah kayu.  Hayyu dan kayu mengklaim kebenaran istilah masing-masing. Pada akhirnya kompromi diantara kedua kelompok tersebut menunjuk pada pilihan syajaratun yang otomatis mudah diterima kalangan hayu dan kayu. Kelompok hayyu terwakili dengan istilah pohon yang menggambarkan kompleksitas hidup. Di lain pihak kelompok kayu menerima syajaratun sebagai istilah pengganti kata kayu. Penjabaran tadi hanya karangan saya sendiri. Karangan itu sek...

Memahami Budaya

Ternyata memahami budaya itu gampang-gampang susah. Termasuk membedakan yang mana budaya yang mana bukan. Saking rumitnya kadang dianggap saja apa-apa yang disukai khalayak itu jadi budaya. Manusia itu satu sama lainnya unik dan berbeda. Perbedaan yang khas itu akhirnya kita kenal sebagai individu tetapi antar-individu ini ada ketergantungan. Ketergantungan bersama yang akhirnya jadi kebiasaan dan menunjukkan ciri khas maka jadilah budaya. Setiap komunal dalam skala budaya itu pasti punya kekhususan misal bahasa, garis keturunan suku bangsa, benda-benda hasil karya, maupun tata kehidupan. Maka melihat dengan kacamata budaya itu berarti berpikir holistik. Kesalahan kita terkadang terjadi etnosentrisme yang tak terkendali. Tidak saja memandang budaya sendiri sebagai yang paling baik tetapi juga menelaah budaya lain dengan kacamata budaya sendiri. Akibatnya tidak dipungkiri terkadang menjadi permasalahan ketika ada dalam keadaan sulit menerima orang dengan kebiasaan yang berbeda. P...

Malu Sama Kucing

Kata seorang psikolog asal California Syekh Freger, peliharalah hewan untuk belajar mencintai. Ini bukan dalam artian menyamakan manusia dengan hewan tetapi berproses menuju belajar mencintai. Dimana kita melayani hewan kita tanpa mengharap balas jasa dari hewan peliharaan. Disitulah inti gambaran sebuah cinta melayani semua dengan tulus. Kami di rumah kebetulan mempunyai 2 ekor kucing berjenis persia dan himalaya. Keluarga kami memang senang dengan kucing, sampai-sampai kucing peliharaan ini dianggap sebagai anggota keluarga tambahan. Ada cerita belum lama ini tentang kelakuan kucing kami. Setiap hari ada waktu minimal 4-5 jam kucing dikeluarkan dari kandangnya. Saat dikeluarkan itu salah satu kucing sebut saja si item memanjat pagar depan rumah setinggi  1,2 m. Tak berapa lama sampai di pagar tetangga yang lebih tinggi dan terus naik sampai akhirnya lepas dari pandangan saya. Sore hari waktunya memberi makan tetapi si item belum juga kembali dan setelah saya cari ada di atas...